Sunday, May 18, 2014

Menjelajah Karimunjawa, Coba Serunya Naik Sampan

Menjelajah Karimunjawa, Coba Serunya Naik Sampan

tour karimunjawa

Memiliki alam bawah laut yang indah, Kepulauan Karimunjawa di Jateng makin ramai dikunjungi turis. Ada banyak spot diving yang bisa Anda jajal. Namun, ada satu cara seru untuk menjelajah tiap pulaunya, yaitu naik sampan.
wisata karimunjawa

Karimunjawa kini semakin ramai dikunjungi turis. Tak hanya turis domestik tapi juga mancanegara. Rata-rata dari mereka datang untuk melihat keindahan alam bawah lautnya. Untuk melihat INFO Karimunjawa yang lain KLIK DISINI dan untuk Melihat Keindahan karimunjawa Yang Lain KLIK DISINI.
Untuk mencapai pulau-pulau yang ada di sana, wisatawan karimunjawa bisa menaiki sampan, seperti yang dilakukan sepasang wisatawan mancanegara ini. Mereka sedang menikmati pantai dengan menaiki sampan atau perahu kecil. Keduanya dipandu oleh seorang penduduk lokal di salah satu sudut pulau Karimunjawa.

Seperti Inilah Bawah Laut Karimunjawa

Seperti Inilah Bawah Laut Karimunjawa

tour karimunjawatour karimunjawa 

Karimunjawa adalah surganya para penyelam. Di sana, Anda bisa bertemu banyak penghuni bawah lautnya karimunjawa, seperti ikan badut yang dikenal dengan ikan Nemo hingga terumbu karang beragam ukuran. Sekali menyelam, dijamin ketagihan!

Karimunjawa merupakan kepulauan yang berada di dalam Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Inilah surganya para traveler yang gemar menyelam di Pulau Jawa. Setiap pulau-pulau di karimunjawa punya beragam kecantikan di bawah lautnya. Dari atas perahu, airnya terlihat jernih. Selamilah tiap pulau di Karimunjawa dan siap-siap jatuh cinta. Untuk melihat INFO Karimunjawa yang lain KLIK DISINI dan untuk Melihat Keindahan karimunjawa Yang Lain KLIK DISINI.

LIMA SITUS BAWAH AIR KARIMUNJAWA

LIMA SITUS BAWAH AIR DITEMUKAN DI PERAIRAN KARIMUNJAWA




POTENSI PENINGGALAN benda cagar budaya (BCB) bawah air di perairan Indonesia relatif banyak, mencapai sedikitnya 500 situs Termasuk Situs di Karimunjawa. Kini, Direktorat Peninggalan Bawah Air (PBD), Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI tengah mengidentifikasi potensi penggalan bawah air di wilayah Karimunjawa. Kepala Seksi Survei pada Subdit Eksplorasi, Direktorat PBA, Desse Yussubrastra mengatakan, kegiatan di Karimunjawaberlangsung selama 10 hari, bertujuan untuk menghasilkan data awal yang dapat dijadikan bahan rujukan untuk perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan potensi peninggalan bawah air di wilayah Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah.

“Dari dokumen dan arsip, serta informasi yang diperoleh, perairan Karimunjawa telah menjadi jalur transportasi sejak ratusan tahun lalu dan terdapat bangkai kapal-kapal tenggelam yang diduga memiliki nilai historis yang penting,” katanya, Senin (26/4/2010) di Jakarta.

Dari kegiatan identifikasi, tim survei Direktorat PBA berhasil mendata lima lokasi situs dengan karakteristik yang berbeda, baik jenis temuan, kedalaman, arus, dan jarak pandang. Alat survei yang digunakan adalah magnetometer dan GPS Map Sounder. Berdasarkan data yang terekam kedua alat tersebut, tim melakukan penyelamatan untuk mengidentifikasi langsung dan pendokumentasian.

Desse menjelaskan, hasil identifikasi di lapangan menunjukkan bahwa dua lokasi yaitu Kapal Indonor di Kemojan dan temuan fragmen kremaik di perairan Pulau Genting berpotensi untuk menjadi lokasi yang memiliki nilai historis dan dapat dikembangkan menjadi lokasi wisata budaya dan edukasi yang menarik serta atraktif. Penilaian ini masih bersifat sementara dan harus ditindaklanjuti dengan kajian lebih lanjut.
Sedangkan untuk temuan kapal kayu di perairan Manjangan Kecil dan Pulau Seruni walaupun usianya masih relatif baru, kedua lokasi ini dapat dikembangkan menjadi lokasi wisata budaya (weckdiving) yang menarik untuk ditawarkan kepada wisatawan asing dan domestik, ungkapnya.

Sementara untuk lokasi di pulau Geleang, masih dibutuhkan indentifikasi lebih lanjut karena posisi bangkai kapal tergolong dalam, melebihi 43 meter dan jarak pandang amat terbatas (kurang dari 1 meter).
Menurut Desse, peninggalan bawah air Karimunjawa dapat dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai tujuan wisata bahari yang dapat menjadi salah satu alternatif pembangunan perekonomian daerah. Untuk meningkatkan sumber daya tarik dan perkembangan wisata karimunjawa, semua pemangku kepentingan harus sadar bahwa menyatukan prinsip-prinsip pembangunan perkelanjutan harus sadar bahwa betapa pentingnya menyatukan prinsip-prinsi p pembangunan berkelanjutan pada perencanaan yang matang dan konsisten pada implementasinya.
Pengembangan potensi wisata arkeologi bawah air ini selain menguntungkan penduduk lokal, juga membantu pelestarian warisan budaya di lokasi tujuan wisata.

Dihubungi secara terpisah, Direktur Peninggalan Bawah Air, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Surya Helmi, membenarkan temuan tim survey di perairan Karimunjawatersebut.

“Hasil interpretasi arkeologi menjadi data penting bagi penulisan sejarah lokal, karena akan melengkapi dan memperkuat akurasi data-data tertulis (dokumen) yang digunakan sebagai acuan penulisan sejarah,” katanya.
Untuk pengembangan temuan tim survei menjadikan situs kapal tersebut sebagai obyek wisata, pemerintah daerah setempat perlu belajar dengan masyarakat Tulamben, Karangasem, Bali, yang sangat memperhatikan kelestarian peninggalan arkeologi berupa kapal tenggelam, yaitu kapal USAT Liberty, sebuah kapal kar go milik Amerika Serikat. Kapal tersebut mengangkut peralatan perang dan karam karena dilumpuhkan oleh torpedo kapal selam milik Jepang I-166, di Selat Lombok pada 11 Januari 1942, dalam Perang Dunia II. Untuk melihat INFO Karimunjawa yang lain KLIK DISINI dan untuk Melihat Keindahan karimunjawa Yang Lain KLIK DISINI

“Masyarakat merasa perlu melestarikan obyek ini agar tidak rusak karena ulah manusia, sehingga terciptalah aturan-aturan yang di Bali dikenal dengan istilah awig-awig, antara lain tercantum berupa larangan tidak boleh memancing pada radius 100 meter dari lokasi kapal tenggelam. Larangan bagi siapa pun untuk mengambil atau memanfaatkan sisa-sisa kapal rusak untuk kepentingan komersial. Larangan untuk menghancurkan terumbu karang yang tumbuh dan berkembang pada dinding-dinding kapal yang telah menjadi habitar dari terumbu karang, dan sejumlah larangan lainnya,” ungkap Surya Helmi.

TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA

TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA



Kawasan Karimunjawa pada awalnya merupakan kawasan Cagar Alam Laut berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No. 123/Kpts-II/1986 tanggal 9 April 1986.  Kemudian melalui Surat Menteri Kehutanan No.161/Menhut-II/1988 tanggal 23 Pebruari 1988, kawasan tersebut dinyatakan sebagai taman nasional. Setelah itu, melalui SK  Menteri Kehutanan No.78/ Kpts-II/1999, tanggal 22 Pebruari 1999 ditetapkan sebagai taman nasional dengan nama Taman Nasional Karimunjawa. Taman Nasional Karimunjawa memiliki luas 111.625 Ha meliputi 22 pulau. Pengelolaan ekosistem kawasan Taman Nasional Karimunjawa berdasarkan  Keputusan Menteri Kehutanan No. 6186/Kpts-II/2002.  Pengelolaan Taman Nasional Karimunjawayang menyangkut pemantapan kawasan dilaksanakan yaitu dengan dilakukannya penataan batas kawasan konservasi perairan  Taman Nasional Karimunjawa pada tahun 2000 oleh panitia tata batas yang diangkat berdasarkan Surat Keputusan Bupati Jepara No. 660.1/60 tahun 2000 tanggal 29 Februari 2000.  Berita acara tata batas kawasan pelestarian alam perairan Taman Nasional Karimunjawa sampai dengan tahun 2002 sudah dapat diselesaikan. Penataan luar batas kawasan perairan dilaksanakan pada tahun 2000 yaitu dengan dipasangnya 2 buah rambu suar masing-masing di Pulau Sintok di sebelah Timur dan Pulau Bengkoang di sebelah Utara kawasan dan 4 titik referensi masing-masing di Tanjung Pudak Pulau Karimunjawa sebelah Selatan, Pulau Bengkoang di sebelah Utara, Pulau Nyamuk dan P. Kembar di sebelah Barat. Selain itu untuk kawasan darat (hutan dan sebagian Pulau Kemujan, telah dilaksanakan tata batasnya pada tahun 1998 dan telah dikukuhkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 72/Kpts-II/1998. Penataan mintakat yang ditetapkan tahun 1990 sudah tidak relevan lagi karena perkembangan kerusakan sumber daya alam dan dinamika masyarakat di sekitar kawasan, sehingg mintkat yang ada perlu ditinjau ulang.
Dasar pertimbangan revisi zona antara lain adalah adanya kerusakan ekosistem pada  kawasan zona inti perairan. Disamping itu penetapan zona inti perairan tahun 1990 belum mengakomodasikan keperluan masyarakat untuk memenuhi mintakat ini telah diusulkan sejak tahun 1998.

karimunjawa

Keputusan Direktorat Jenderal PHKA No. SK.79/IV/Set-3/2005 tanggal 30 Juni 2005 tentang Revisi Mintakat/Zonasi TN Kepulauan Karimunjawa.  Zonasi / mintakat  di TN Karimunjawa seluas 111.625 hektar adalah sebagai berikut:
1.      Zona inti seluas 444,629 hektar meliputi sebagian perairan P. Kumbang, Peraitan Taka Menyawakan, perairan Taka malang dan perairan Tanjung Bomang.
2.      Zona Perlindungan seluas 2.587,711 hektar meliputi hutan tropis dataran rendah dan hutan mangrove serta wilayah perairan Pulau Geleang, P. Burung, Tanjung Gelam, Pulalau Sintok, P. Cemara kecil, P. Katang, Gosong Selikur, Gosong Tengah.
3.      Zona Pemanfaatan Pariwisata seluas 1.226,525 hektar meliputi perairan P. Menjangan Besar, P. Menjangan Kecil, P. Menyawakan, P. Kembar, sebelah timur P. Kumbang, P. Tengah, P. Bengkoang, Indonor dan Karang Kapal.
4.      Zona Pemukiman seluas 2.571,546 hektar meliputi P. Karimunjawa, P. Kemujan, P. Parang dan P. Nyamuk.
5.      Zona Rehabilitasi seluas 122,514 hektar meliputi perairan sebelah timur P.Parang, sebelah timur P. Nyamuk, sebelah barat P. Kemujan dan sebelah barat P. Karimunjawa.
6.      Zona Budidaya seluas 788,213 hektar meliputi perairan Pulau Karimunjawa, P. Kemujan, P. Menjangan Besar, P. Parang dan P. Nyamuk.
7.      Zona Pemanfaatan Perikanan Tradisional seluas 103.883,862 hektar meliputi seluruh perairan diluar zona yang telah ditetapkan yang berada di dalam kawasan TN Karimunjawa.
Peruntukan dari masing-masing zona adalah sebagai berikut :
·         Zona Inti adalah zona yang mutlak harus dilindungi karena di dalamnya tidak diperbolehkan adanya perubahan apapun oleh aktivitas manusia. Kegiatan yang diperbolehkan hanya yang berhubungan untuk kepantingan ilmu pengetahuan, pendidikan, penelitian, kegiatan inventarisasi, pemantauan potensi, perlindungan dan pengamanan.
·         Zona Perlindungan adalah zona yang diperuntukkan untuk melindungi zona inti, yang merupakan areal untuk mendukung upaya perlindungan spesies, pengembangbiakan alami jenis-jenis satwa liar, termasuk satwa migran serta proses-proses ekologis alami yang terjadi di dalamnya. Kegiatan yang diperbolehkan adalah yang berhubungan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, pendidikan, penelitian, dan pemanfaatan secara terbatas melalui perijinan khusus.
·         Zona Pemanfaatan Pariwisata adalah zona yang dikembangkan untuk kepentingan kegiatan wisata alam bahari dan wisata alam lain yang ramah lingkungan. Pada kawasan tersebut dapat sikembangkan sarana prasaran rekreasi dan pariwisata alam yang ramah lingkungan melalui perijinan khusus.
·         Zona Pemukiman adalah zona yang diperuntukkan untuk kepntingan pemulihan kondisi ekosistem terumbu karang yang telah mengalami kerusakan sekitar 75%. Kegiatan rehabilitasi ekosistem terumbu karang diupayakan menggunakan bahan-baha/substrat sealami mungkin.
·         Zona Budidaya adalah zona yang diperuntukkan untuk kepentingan budidaya perikanan seperti budidaya rumput laut, karamba jaring apaung dll oleh masyarakat setempat dengantetap memperhatikan aspek konservasi. Untuk melihat INFO Karimunjawa yang lain KLIK DISINI dan untuk Melihat Keindahan karimunjawa Yang Lain KLIK DISINI.
·         Zona Pemanfaatan Perikanan Tradisional adalah zona yang diperuntukkan untuk kepentingan pemanfaatan perikanan yang sudah berlangsung turun temurun oleh masyarakat setempat dengan menggunkan peralatan atau sarana prasarana pemanfaatan yang ramah lingkungan.

Sumber:

27 PULAU DI KARIMUNJAWA

27 PULAU DI KARIMUNJAWA



1. Pulau Karimunjawa*
2. Pulau Kemojan*
3. Pulau Parang*
4. Pulau Nyamuk*
5. Pulau Genting*
6.
Pulau Menjangan Besar (Atambua Resort)
7. Pulau Menjangan Kecil
8.
Pulau Cemara Besar
9. Pulau Cemara Kecil
10. Pulau Gleyang
11. Pulau Burung
12. Pulau Bengkoang
13. Pulau Menyawakan(Kura-kura Resort)
14. Pulau Kembar
15. Pulau Katang
16. Pulau Krakal Besar
17. Pulau Krakal Kecil
18. Pulau Sintok
19. Pulau Mrico/Mrican
20.
Pulau Tengah
21. Pulau Pinggir
22.
Pulau Cilik/Kecil
23. Pulau Gundul
24. Pulau Seruni
25. Pulau Sambangan
26. Pulau Cendikian
27. Pulau Kumbang

Keterangan: Yang ada tanda bintang (*) adalah pulau yang berpenghuni


KEPULAUAN KARIMUNJAWA



KARIMUNJAWA , kremun-kremun  saking tanah jawi (samar-samar dari Tanah Jawa) adalah salah satu Kepulauan yang terletak di Laut Jawa, ±45 mil laut sebelah Barat Laut dari Kota Jepara. Secara Adsministratif Karimunjawa termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Daerah Tingkat II  Jepara, dengan jumlah penduduk ±8.000 jiwa (1999). Karimunjawa memiliki Luas daratan ±1.500 Ha dan Perairan ±110.000 Ha dimana ada sebanyak 27 Pulau tersebar di wilayah ini, Hanya 5 Pulau yang berpenghuni  yakni Pulau Karimunjawa, Pulau Kemojan, Pulau Parang, Pulau Genting dan Pulau Nyamuk. Pada Tanggal 15 Maret 2001, Karimunjawa ditetapkan oleh Pemerintah Jepara sebagai Taman Nasional Karimunjawa dan  Sekarang Karimunjawa dikembangkan menjadi salah satu  primadona wisata Bahari yang mulai banyak disukai wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara karena keindahan alamnya yang mempesona dan masih alami.

Kepulauan Karimunjawamempunyai alam yang sangat indah dan menarik. Alamnya yang masih “perawan” dan “Hijau” serta pantai dengan pasir putihnya yang menawan. Tidak ketinggalan panorama dasar laut yang masih bersih dihiasi 242 jenis ikan hias dan lebih dari 51 genera biota karang yang tiada duanya di Indonesia . Untuk melihat INFO Karimunjawa yang lain KLIK DISINI dan untuk Melihat Keindahan karimunjawa Yang Lain KLIK DISINI Oleh karena kekayaan dan keasliannya yang menawan  inilah menjadikan Karimunjawasebagai  “surga” bagi wisatawan.

Thursday, May 15, 2014

PENDUDUK KARIMUNJAWA

PENDUDUK KARIMUNJAWA



Suatu Keunikan tersendiri bagi Karimunjawa  adalah keanekaragaman suku bangsa yang mendiami wilayah ini. Meskipun memiliki wilayah yang sempit dan jumlah penduduk yang tergolong sedikit , Karimunjawa memiliki keanekaragaman suku bangsa, seperti  Suku Jawa (suku Tebanyak), Suku Bugis, Suku Madura, Suku Mandar, Suku Bajo, Suku Buton , suku Makasar, dan juga suku-suku lainnya. Dengan adanya keanekaragaman ini maka Karimunjawa bisa dikatakan Kepulauan yang Multiras dari berbagai suku bangsa di Indonesia. Semula di antara suku bangsa tersebut terpisah-pisah membentuk perkampungan sendiri-sendiri, namun dengan perkembangan zaman, adanya pernikahan beda suku dan bertambahnya penduduk menjadikan adanya pembauran

Penduduk Karimunjawa yang sekarang merupakan generasi baru Karimunjawa, yang diperkirakan datang pada awal tahun 1900-an. Jadi bukan merupakan generasi terdahulu yakni zaman Sunan Nyamplungan (1550). Kenyataan inipun merupakan keunikan lain dari Kepulauan Karimunjawa. Penghuni Karimunjawa bukanlah penghuni yang kontinyu, secara terus menerus dari generasi ke generasi berdiam disini. Namun terputus-putus seperti ada sekat  di setiap generasi. Satu generasi datang , tidak betah dengan alam Karimunjawa yang tandus lalu pergi. Kemudian datang lagi generasi baru, begitu terus menerus. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya kuburan-kuburan di Tengah Hutan. Hampir di setiap Pinggir pantai, tedapat kuburan tua, baik kuburan islam (Jawa, Bugis, Madura, Mandar, Buton, dsb), kuburan Cina Bahkan kuburan Belanda (Kerkoff). Dan para penghuni pertama Karimunjawa baik dari suku Jawa, Bugis, atau yang lainnya sekarang masih ada yang hidup. Dan merekalah yang  membuka hutan pertama bagi generasi penduduk Karimunjawa yang sekarang.

(Sumber: BTNKJ)

SEJARAH KARIMUNJAWA

SEJARAH KARIMUNJAWA


Pada abad ke-15 di Kudus hiduplah seorang Waliyullah yang bernama Syekh Ja'far Shodiq yang terkenal dengan sebutan Sunan Kudus. Beliau menyebarkan agama Islam kepada masyarakat Kudus dan sekitarnya. Beliau juga merupakan salah satu anggota Walisongo (Wali Sembilan) yang telah berhasil mendirikan Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa yaitu Kerajaan Demak. Di dalam Kerajaan Demak, Sunan Kudus mempunyai peranan yang sangat penting, karena selain sebagai salah satu anggota dewan penasehat Sultan, juga berperan sebagai salah satu Senopati perang. Dalam bidang keagamaan karena keilmuannya beliau sering dimintai pendapat oleh Sultan Raden Patah.

Pada suatu hari Sunan Kudus mendapat undangan dari Sultan Raden Patah. Dari pertemuan tersebut ternyata Sunan mendapat kepercayaan untuk memimpin jamaah haji ke Mekah dan Madinah. Agar proses belajar mengajar di Pesantren Kudus selama ditinggal tetap berjalan, maka Sunan Kudus menunjuk putranya yang bernama Amir Hasanuntuk memimpinnya. Tetapi apa yang terjadi, setelah Sunan Kudus berangkat naik Haji, para santri tidak diajari masalah agama, justru diajak bermain Gamelan. Setelah Sunan Kudus kembali pulang dari menunaikan ibadah haji, Para santri melaporkan tindakan Amir Hasan selama tidak ada sang Sunan. Sunan Kudus amat murka, beliau menganggap Amir Hasantelah melupakan nasehat orang tua dan agama. Akhirnya Amir Hasan diusir dari panti Kudus.
Dengan perasaan sedih dan berdosa Amir Hasankemudian meninggalkan tanah kelahirannya memuju rumah bibinya, Dewi Sujinah, isteri dari Sunan Muria di Gunung Muria. Dia menetap beberapa bulan di Muria. Sunan Muria sangat senang menerima keponakannya itu, bahkan mengangkat Amir Hasan sebagai murid sekaligus puteranya. Amir Hasan diangkat sebagai anak angkat. Setiap hari, dia dididik dengan ilmu agama dan kesaktian, sehingga tumbuhlah ia menjadi pemuda yang alim dan berilmu tinggi.

Sementara itu di panti Kudus, Sunan Kudus mendapatkan laporan bahwa Amir Hasanberada di Muria dan menimba ilmu pada Sunan Muria. Demi mendengar hal itu, cepat-cepat beliau menemui Sunan Muria. Dalam hati Sunan Kudus sangat rindu pada putranya itu, meskipun nakal, Amir Hasan tetaplah anaknya, darah dagingnya sendiri. Pertemuan antara ayah dan anak di Pesantren Muria itu sangat mengharukan. Tangis rindu tak dapat ditahan lagi. Keduanya saling memaafkan. Kemudian Sunan Kudus kembali lagi ke Kudus, sedang Amir Hasan masih tinggal di Muria.

Beberapa tahun kemudian setelah Sunan Muria menganggap Amir Hasan sudah mampu untuk bertabligh, menyebarkan agama Islam, Beliau menitahkan kepada Amir Hasan untuk mencari daerah dimana masyarakatnya belum beragama Islam. Pada saat pelepasan, Sunan Muria mengundang Sunan Kudus ke Pesantren Muria. Kepergian Amir Hasanditemani oleh dua orang santri Sunan Muria.

Pantai Legon Bajak
Kemudian ketiga orang tersebut menuju ke arah Barat, sampai akhirnya tiba di tepi pantai Jung Poro (sekarang Jepara). Disini mereka membuat perahu. Setelah perahunya selesai, ketiganya berlayar menuju arah barat laut. Beberapa hari di perahu akhirnya mendaratlah perahu itu disebuah pulau yang masih asing. Hanya ada beberapa orang berkeliaran dengan wajah yang sangat menyeramkan. Mereka adalah bajak laut yang ganas. Dengan tenan Amir Hasan menghampiri dan mengucapkan salam, namun apa yang xang terjadi? Bukan jawab salam yang diuucapkan tetapi tantangan untuk berkelahi. Dengan tabah dan tegar akhirnya para bajak laut dapat dikalahkan. Bajak laut tersebut akhirnya tumduk dan menjadi murid setia Amir Hasan. Untuk mengenang peristiwa itu, maka Amir Hasan menamakan tempat tersebut dengan nama Legon Bajak. Di pulau yang baru ini Amir Hasan bertemu dengan pamannya, Datuk Danajaya.

Kemudian Amir Hasan menyuruh kedua temannya kembali ke Muria untuk melaporkan kepada Sunan Muria Tentang tempat keberadaannya sekarang. Singkat cerita akhirnya berita tentang keberadaan Amir Hasan sampai ke Muria. Betapa senangnya Sunan Muria mendengar berita tersebut. Kemudian Sunan Muria meminta tolong para santri untuk menunjukkan kepulauan tempat Amir Hasan sekarang. "Ono ngendi papan dununge putraku Amir Hasan saiki, Hei santriku, cobo duduhke ingsun", Kata Sunan Muria. " Wonten mrika kanjeng Sunan", sahut santri sambil menunjuk sebuah pulau yang terletak di tengah laut. "Pulone kok adoh banget, tak pirsani wae kremun-kremun saka Jawa kene. Oh matura marang putraku Amir Hasan papan dununge putraku kuwi tak jenengke Karimunjawa sing ateges kremun-kremun saka Jawa. Lan Karimunjawa ateges pulo kang mulia ing laut Jawa. Muga-muga wae putraku Amir Hasan bisa nyiarno Agama Islam lan mulia uripe ana tanah mau". (“Ada di mana tempat tinggalnya putraku Amir Hasan cobatunjukkan padaku" kata Sunan Muria. "Ada disana kanjeng Sunan", kata santri sambil menunjuk pada pulau yang terletak di tengah laut. "Lho, pulaunya kok jauh sekali, saya lihat dari sini kok samar-samar dari Jawa ini. Oh, beritahu kepada putraku Amir Hasan, kalau pulau tempat tinggalnya saya namakan Karimunjawa yang berarti samar-samar dari Jawa. Dan Karimunjawa juga punya arti yang mulia di Laut Jawa. Semoga saja putraku Amir Hasan bisa menyiarkan agama Islam dengan baik dan mulia hidupnya berada di tanah Karimunjawa").

Kabar tersebut tidak hanya menyenangkan hati Sunan Muria saja, tetapi juga istri dan para santrinya. Kemudian sepasang suami istri itu berangkat menuju Kudus bersama kedua santri untuk menyampaikan berita gembira. Betapa gembira Sunan Kudus dan istri mendengar berita itu. Akhirnya sebagai ungkapan rasa kegembiraannya Sunan Kudus mengirimkan sebuah mustaka (puncak bangunan Masjid) kepada Amir Hasan. Setelah itu Sunan Muria bersama rombongan kenbali lagi ke Muria.

Sebelum kedua santri kembali ke Karimunjawa, Sunam Muria mengirimkan sebuah mustaka pula kepada Amir Hasan. Dengan demikian Amir Hasan mendapat dua mustaka. Sedangkan Dewi Sujinah, istri Sunan Muria mengirimi sekepal nasi beserta lauk pauk yang sangat disukai Amir Hasan yakni pecel ikan lele, pepesan siput (besusul : bahasa Jawa), satu buah nangka besar dan seunting padi.

Mustaka Masjid
Setelah berpamitan, kedua santri berangkat menuju Karimunjawa. Sesampai di pantai Jung Poro kemudian berlayar dan akhirnya sampailah ditanah tujuan. Sementara Amir Hasan telah menyongsong di sebuah legon (teluk) yang masih sepi bersama beberapa orang muridnya. Kedua santri lalu memberikan oleh-oleh dari Kudus dan Muria. Sekepal nasi diterima dengan senang hati. Setelah nasi dibuka, dia kemudian mengambil pecelan lele dan pepesan siput. Kedua lauk itu bukan diambil untuk dimakan namun dibuang di sebuah kali kecil sambil berkata, "Hai santriku semua, saksikanlah aku membuang lele dan siput ini, siapa tahu akan menjadi sumber penghidupan anak cucu kita di tanah yang baru ini". Ajaib sekali, siput dan lele yang sudah masak siap dimakan tersebut hidup kembali. Pada akhirnya nanti kedua hewan tersebut berkembang biak dengan baik sampai sekarang. Satu keajaiban pada kedua hewan itu adalah leleKarimunjawa tidak berpatil, karena memang asal muasalnya dari ikan lele yang sudah masak dan sudah diolah. Demikian pula siputnya tidak berekor runcing atau lancip tapi hampir bolong papak karena punya riwayat serupa yakni siput yang telah dimasak. Tempat berkembangnya lele tersebut akhirnya dinamakan oleh Amir Hasan sebagai Legon Lele. Kedua santri pun menceritakan pesan Sunan Muria bahwa pulau yang baru ini dinamakan Pulau Karimunjawa. Semenjak itu pulau tempat tinggal Amir Hasan bernama Karimunjawa. Kemudian Amir Hasan membalikkan perahu bekas tumpangan kedua santri. Ajaib! Perahu tersebut berubah menjadi sebuah pulau yang tandus. Sekarang pulau itu dinamakan Pulau Batu karena hanya berupa batu putih, seluas tak lebih dari 500 m².

Makam Amir Hasan
Amir Hasan juga menerima satu buah nangka besar. Dengan rasa persaudaraan sesama muslim buah nangka tersebut dimakan bersama-sama. Setelah merasa kenyang buah nangka tersebut sisanya tetap dibawa, sambil melanjutkan perjalanan mencari tempat yang paling cocok untuk mendirikan Pesantren dan masjid. Sambil berjalan sesekali santri ada yang memakan buah nangka, hingga sampailah di suatu tempat yang tinggi, teduh, dan dekat sumber air. Amir Hasan melihat tempat itu sangat cocok. Akhirnya diputuskan tempat tersebut sebagai pesantren di Karimunjawa. Pada saat istirahat beliau tanya kepada santri tentang buah kesayangannya, nangka. "Hai santriku apa masih ada, bawa sini saya mau memakannya". Santri yang membawa buah nangka menyahut "Wah, nangkanya tinggal satu nyamplung (satu isi = beton, bahasa Jawa) saja kanjeng guru". Amir Hasanmenjawab, "Oh kalau begitu ingatlah wahai muridku semua, tempat yang baru ini saya namakan Dusun Nyamplungan".

Semenjak itulah beliau bersama santri-santrinya hidup dan mendalami ilmu agama. Santrinya semakin banyak mulai dari rakyat jelata maupun bekas bajak laut. Karena kedudukannya di Dusun Nyamplungan, beliau terkenal dengan sebutan Sunan Nyamplungan.(Sumber: BTNKJ)